Pertemuan bilateral antara Amerika Serikat dan China akhirnya menghasilkan titik terang dalam ketegangan perdagangan yang selama ini membayangi ekonomi global. Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, menyatakan bahwa dialog intensif mengenai tarif berjalan konstruktif dan menghasilkan kesepakatan awal yang bertujuan mengurangi eskalasi perang dagang antara kedua kekuatan ekonomi dunia tersebut.
Kesepakatan ini menjadi angin segar bagi pasar global setelah bertahun-tahun terjebak dalam ketidakpastian. Fokus utama perundingan adalah memulihkan kelancaran arus perdagangan produk-produk strategis seperti mineral tanah jarang dan magnet berteknologi tinggi, yang keduanya memiliki peran vital dalam sektor teknologi, pertahanan, dan manufaktur.
Penurunan Tarif: Langkah Awal, Bukan Akhir
Dalam pertemuan yang berlangsung di Jenewa bulan lalu, kedua negara menyepakati penurunan bea masuk yang signifikan. Amerika Serikat menurunkan tarifnya terhadap barang-barang asal China dari sebelumnya 145% menjadi 30%. Sebagai timbal balik, China juga memangkas tarif balasan dari 125% menjadi 10%.
Meski demikian, tarif masih tetap diberlakukan dan perdagangan belum kembali normal sepenuhnya. Para pelaku industri masih menghadapi hambatan signifikan, sementara sejumlah perusahaan AS mengeluhkan kelangkaan pasokan komponen kritis yang sebelumnya diperoleh dari China.
Masa Penangguhan 90 Hari: Waktu Terbatas untuk Kesepakatan Permanen
Kedua negara kini telah menjalani sepertiga dari masa tenggang 90 hari yang disepakati untuk menangguhkan tarif. Tenggat waktu ditetapkan hingga 10 Agustus, di mana jika tidak tercapai kesepakatan permanen, maka tarif akan kembali dinaikkan ke level semula, yakni 145% oleh AS dan 125% oleh China.
Baca Juga: Bessent: Pembicaraan AS-Tiongkok Mandek, Dorong Panggilan Trump-Xi
Negosiator dari kedua pihak dilaporkan telah menyepakati kerangka kerja baru yang mengacu pada konsensus yang dibahas di Jenewa. Kepala negosiator China, Li Chenggang, menyebut bahwa usulan kesepakatan akan segera diajukan ke masing-masing kepala negara untuk mendapat persetujuan final.
Saling Balas: Ketegangan Teknologi dan Pendidikan
Di tengah proses negosiasi, tensi tetap terasa. China diketahui menekan ekspor bahan-bahan penting, termasuk magnet dan logam tanah jarang, sebagai bentuk pembalasan atas kebijakan tarif AS. Langkah ini sempat mengguncang rantai pasok industri pertahanan, teknologi, dan manufaktur AS.
Sebagai respons, pemerintahan AS di bawah Presiden Donald Trump meningkatkan pembatasan ekspor produk dan teknologi strategis ke China. Termasuk di dalamnya adalah perangkat lunak untuk produksi semikonduktor, gas industri khusus, serta teknologi nuklir dan kedirgantaraan.
Lebih jauh lagi, Trump bahkan mengusulkan kebijakan kontroversial dengan membatasi akses mahasiswa asal China ke kampus-kampus Amerika, menuding adanya potensi ancaman terhadap keamanan nasional dalam sektor akademik dan riset.
Putusan Hukum yang Menguntungkan Trump
Dalam perkembangan terpisah, Pengadilan Banding Federal AS memutuskan bahwa pemerintahan Trump diperbolehkan tetap menerapkan tarif global sembari menunggu penyelesaian proses hukum lebih lanjut. Putusan ini memberikan legitimasi sementara terhadap kebijakan proteksionisme Trump yang selama ini menuai kritik tajam dari pelaku bisnis domestik dan internasional.
Kendati ada perkembangan positif dalam perundingan, jalan menuju normalisasi hubungan perdagangan AS-China masih panjang. Kedua pihak memiliki kepentingan strategis yang saling bertentangan, namun sama-sama menyadari bahwa konfrontasi berkepanjangan akan merugikan semua pihak.
Dengan waktu yang terus berjalan menuju batas waktu pada Agustus, dunia kini menanti langkah nyata dari dua kekuatan ekonomi terbesar dunia dalam membangun kembali kepercayaan dan stabilitas perdagangan global.

