IHSG Tergelincir ke Bawah 7.000, Koreksi Beruntun 7 Hari Sentimen Global dan Domestik Jadi Tekanan

IHSG Tergelincir ke Bawah 7.000, Koreksi Beruntun 7 Hari: Sentimen Global dan Domestik Jadi Tekanan

Jakarta, 19 Juni 2025 — Pasar saham Indonesia kembali menunjukkan tekanan signifikan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah tajam sebesar 1,96% ke level 6.968 pada akhir perdagangan hari Kamis ini, setelah sempat dibuka di posisi 7.107. Ini menjadi koreksi hari ketujuh secara beruntun, menandai tren penurunan yang patut diwaspadai oleh pelaku pasar.

Kebijakan Bank Indonesia Tak Mengubah Arah Pasar

Salah satu penyebab pelemahan pasar kali ini adalah keputusan Bank Indonesia (BI) yang mempertahankan suku bunga acuan di level 5,50% dalam Rapat Dewan Gubernur bulan Juni. Tidak hanya itu, suku bunga Deposit Facility dan Lending Facility juga tetap masing-masing di level 4,75% dan 6,25%. Meskipun keputusan ini sejalan dengan ekspektasi pasar, investor tampaknya menilai kebijakan tersebut belum cukup memberikan dorongan pada perekonomian di tengah ketidakpastian global.

Keputusan untuk menahan suku bunga ini diambil sebagai langkah menjaga stabilitas rupiah dan mengendalikan inflasi, yang masih dalam kisaran target BI. Namun demikian, pasar tampaknya lebih fokus pada tekanan eksternal yang semakin kompleks.

Sentimen Global Membayangi: The Fed & Ketegangan Timur Tengah

Dari sisi global, The Federal Reserve (bank sentral Amerika Serikat) juga kembali menahan suku bunganya di rentang 4,25% hingga 4,50%. Sikap hati-hati The Fed ini menandakan kekhawatiran terhadap potensi perlambatan ekonomi AS di tengah inflasi yang masih fluktuatif.

Baca Juga: Bitcoin Terkapar Akibat Aksi Jual Holder Baru: Investor Jangka Panjang Tetap Percaya Diri

Yang semakin menekan psikologis pasar adalah ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Ketika berita bahwa AS bersiap untuk melakukan aksi militer terhadap Iran merebak, investor global langsung mengambil langkah konservatif. Situasi ini tidak hanya menimbulkan volatilitas di pasar minyak, tetapi juga mendorong arus modal keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Pasar Asia Juga Terkoreksi, Meski Tak Seragam

Kondisi negatif IHSG bukanlah fenomena tunggal. Sejumlah bursa Asia lainnya juga menunjukkan tren yang serupa:

CSI 300 China terkoreksi 0,82% seiring kekhawatiran terhadap lesunya permintaan domestik dan ketidakpastian sektor properti.

Nikkei 225 Jepang mencatat penurunan 1,02% dan ditutup di 38.488,34, sementara indeks Topix turun 0,58% ke level 2.792,08.

Sementara itu, S&P/ASX 200 Australia bergerak datar dan mengakhiri sesi di 8.523,7.

Namun, Kospi Korea Selatan berhasil mencetak kenaikan moderat sebesar 0,19% dan ditutup pada 2.977,74, ditopang oleh saham-saham teknologi yang menguat di tengah optimisme terhadap permintaan chip global.

Prospek Ke Depan: Investor Diharapkan Tetap Waspada

Dengan tekanan eksternal dan internal yang belum mereda, pelaku pasar diimbau untuk tetap berhati-hati. Risiko geopolitik, arah kebijakan moneter global, serta kondisi makroekonomi domestik akan menjadi indikator penting bagi pergerakan IHSG ke depan. Untuk saat ini, level psikologis 7.000 telah ditembus ke bawah, dan support berikutnya menjadi perhatian utama para analis teknikal.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *