Jakarta, 22 Juni 2025 – Di tengah ketegangan geopolitik yang semakin membara akibat bergabungnya Amerika Serikat dalam konflik antara Iran dan Israel, harga emas justru menunjukkan pergerakan yang relatif stagnan. Emas Antam pada hari Minggu tercatat stabil di angka Rp1.942.000 per gram, tidak jauh berbeda dari hari-hari sebelumnya.
Sementara itu, harga emas dunia atau Gold Spot (XAUUSD) hanya mengalami kenaikan tipis, naik ke posisi US$3.368 per ons, setelah sempat terkoreksi ke US$3.365. Pergerakan datar ini terjadi meskipun kondisi geopolitik global tengah bergolak, yang biasanya menjadi pemicu naiknya permintaan terhadap logam mulia sebagai aset safe haven.
Salah satu penyebab lesunya harga emas disebut-sebut karena ekspektasi awal investor bahwa Presiden AS, Donald Trump, akan mengambil pendekatan diplomatik dalam merespons konflik tersebut. Namun kenyataan bahwa Amerika memutuskan turun langsung ke medan konflik justru mengubah arah spekulasi pasar secara drastis.
Analis Prediksi Emas Akan Melejit
Meski saat ini emas tampak tenang, analis dari berbagai institusi keuangan global meyakini bahwa ini hanya “ketenangan sebelum badai”. Banyak pelaku pasar mulai mengakumulasi posisi mereka di logam mulia sebagai langkah antisipatif terhadap potensi eskalasi perang dan lonjakan inflasi.
Baca Juga: Iran Tolak Diplomasi AS, Pilih Temui Putin di Moskow Usai Serangan ke Fasilitas Nuklir
Goldman Sachs, dalam laporan terbarunya, memperkirakan permintaan terhadap emas akan melonjak secara signifikan, terutama dari bank-bank sentral yang mencari stabilitas portofolio di tengah krisis global. Lembaga investasi ternama ini memproyeksikan bahwa harga emas dapat mencapai US$3.700 per ons pada akhir tahun 2025, dan berpotensi menembus US$4.000 per ons pada pertengahan 2026.
Senada dengan itu, Akshay Chinchalkar, analis teknikal dari Axis Securities, menambahkan bahwa selama harga emas bertahan di atas level psikologis US$3.314, peluang untuk melesat ke area US$3.770 tetap terbuka lebar. Namun, dia mengingatkan bahwa investor perlu mewaspadai level resistance kuat di kisaran US$3.450 hingga US$3.520.
Mengapa Investor Mulai Beralih ke Emas Kembali?
Ketidakpastian politik global, tekanan inflasi, serta lemahnya kepercayaan terhadap stabilitas mata uang fiat menjadi alasan utama mengapa emas kembali menjadi primadona. Dalam skenario perang terbuka antara kekuatan besar dunia, logam mulia dianggap sebagai salah satu dari sedikit instrumen yang mampu mempertahankan nilainya dalam jangka panjang.
Dengan latar belakang tersebut, bukan tidak mungkin emas akan kembali ke masa kejayaannya sebagai “raja aset” di saat dunia mengalami goncangan besar. Bagi investor jangka panjang, sinyal ini bisa menjadi peluang strategis untuk melakukan rebalancing portofolio dan mempertimbangkan eksposur terhadap aset safe haven.

