Pasar Saham AS Tersungkur Setelah Trump Jatuhkan Gelombang Tarif Baru ke Negara Mitra

Pasar Saham AS Tersungkur Setelah Trump Jatuhkan Gelombang Tarif Baru ke Negara Mitra

New York, 8 Juli 2025 — Gejolak besar mengguncang pasar keuangan Amerika Serikat setelah Presiden Donald Trump secara tiba-tiba mengumumkan tarif baru terhadap sejumlah negara mitra dagang strategis. Dampaknya langsung terasa. Indeks-indeks utama Wall Street kompak berada di zona merah pada penutupan perdagangan Senin (07/07) waktu setempat, mencerminkan kekhawatiran investor terhadap potensi eskalasi perang dagang global.

Indeks S&P 500, yang mewakili perusahaan-perusahaan besar AS, turun 0,79%. Penurunan lebih tajam terjadi pada indeks S&P 600 Smallcap sebesar 1,78%, mencerminkan tekanan berat pada sektor usaha kecil dan menengah. Nasdaq Composite juga terkoreksi 0,92%, sementara Dow Jones Industrial Average mencatat penurunan 0,94%. Bahkan sektor bioteknologi, yang biasanya lebih tahan terhadap isu geopolitik, tak luput dari dampak: Nasdaq Biotech jatuh 1,48%.

Pengumuman kebijakan tarif ini mencakup negara-negara mitra utama seperti Jepang, Korea Selatan, Indonesia, Malaysia, Afrika Selatan, Kazakhstan, hingga Kamboja. Trump menyatakan bahwa langkah ini diambil untuk “melindungi industri dalam negeri dari praktik perdagangan tidak adil”. Namun, banyak analis menilai kebijakan ini justru berisiko memicu aksi balasan dan memperburuk ketidakpastian global.

Baca Juga: Rupiah Tertekan, Harga Emas Melejit: Imbas Tarif 32% AS dari Trump ke Indonesia

Saham-saham sektor teknologi yang menjadi tulang punggung pasar turut terpukul. Apple (AAPL) melemah 1,69%, Alibaba anjlok 2,24%, Alphabet (induk Google) turun 1,53%, sementara Microsoft menyusut 0,22%. Koreksi tajam ini terjadi karena perusahaan teknologi global sangat bergantung pada rantai pasok internasional dan pasar ekspor.

Efek dari kebijakan ini juga menjalar hingga ke Asia. Pada pembukaan perdagangan Selasa pagi (08/07), nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah, dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turut terkoreksi. Investor asing terlihat melakukan aksi jual bersih, mencerminkan kekhawatiran akan dampak tarif terhadap stabilitas ekonomi kawasan.

Menariknya, di tengah ketidakpastian ini, harga emas batangan Antam justru mengalami kenaikan. Emas sebagai aset safe haven kembali dilirik investor yang mencari perlindungan dari volatilitas pasar. Harga emas Antam tercatat naik hingga menyentuh Rp1.906.000 per gram, memperlihatkan lonjakan permintaan dari dalam dan luar negeri.

Para pelaku pasar kini menanti langkah lanjutan dari pemerintah negara-negara terdampak, termasuk kemungkinan penerapan tarif balasan atau negosiasi ulang perjanjian perdagangan. Sementara itu, volatilitas pasar diperkirakan akan terus berlanjut dalam beberapa hari ke depan, seiring ketidakpastian arah kebijakan perdagangan global.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *