Rupiah Tertekan hingga Rp16.303 per Dolar AS di Tengah Ketegangan Geopolitik Timur Tengah

Rupiah Tertekan hingga Rp16.303 per Dolar AS di Tengah Ketegangan Geopolitik Timur Tengah

Nilai tukar rupiah kembali tertekan pada awal perdagangan Jumat, 13 Juni 2025, menyusul meningkatnya tensi geopolitik global, khususnya di kawasan Timur Tengah. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka melemah 61 poin atau setara 0,38 persen, ke posisi Rp16.303 per dolar Amerika Serikat (AS). Tekanan ini tidak hanya mencerminkan pelemahan domestik, tetapi juga reaksi global terhadap ketidakpastian yang terus membayangi pasar keuangan dunia.

Ketegangan meningkat tajam setelah Israel melancarkan serangan udara terhadap fasilitas penting di ibu kota Iran, Teheran. Langkah tersebut memicu ketakutan akan potensi perang regional yang lebih luas, yang pada gilirannya mendorong pelaku pasar untuk mencari perlindungan pada aset-aset yang dianggap aman (safe haven). Hal ini menyebabkan permintaan terhadap dolar AS melonjak, terlihat dari kenaikan indeks dolar sebesar 0,27 poin atau 0,28 persen menjadi 98,1.

Baca Juga: Krisis Memanas di Timur Tengah, Pasar Global Bergejolak: Bitcoin Terkoreksi ke US$103 Ribu, Minyak & Emas Melejit

Tak hanya dolar AS, mata uang defensif seperti yen Jepang dan franc Swiss juga menguat, sejalan dengan meningkatnya arus modal keluar dari pasar negara berkembang. Rupiah, sebagai salah satu mata uang emerging market, menjadi korban tekanan tersebut, di tengah ketidakpastian global yang belum menunjukkan tanda mereda.

Gejolak juga tercermin di pasar komoditas. Harga emas melonjak signifikan hingga menembus US$3.453 per ons, didorong oleh kekhawatiran inflasi dan ekspektasi bahwa suku bunga global mungkin akan tetap tinggi jika konflik berlarut-larut. Emas sebagai instrumen lindung nilai kembali menjadi primadona, di tengah ketidakpastian arah kebijakan moneter dan geopolitik.

Menariknya, di tengah tekanan ini, bursa saham utama AS justru mencatatkan penguatan. Indeks S&P 500 naik 0,3 persen, Nasdaq menguat 0,2 persen, dan NYSE menanjak 0,4 persen. Hal ini menunjukkan bahwa investor global mulai melakukan rotasi aset ke pasar ekuitas yang lebih mapan sebagai upaya mitigasi risiko.

Kondisi ini memberikan tantangan tersendiri bagi Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar dan inflasi domestik. Jika ketegangan geopolitik terus memburuk, rupiah berpotensi mengalami pelemahan lanjutan, terutama jika disertai arus modal keluar yang signifikan dari pasar obligasi dan saham Indonesia. Dalam jangka pendek, pelaku pasar disarankan lebih berhati-hati, sambil mencermati perkembangan politik global dan respons kebijakan moneter dari bank sentral utama dunia.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *