Dalam dunia ekonomi global yang semakin dinamis, kebijakan suku bunga yang diambil oleh Federal Reserve (The Fed) kerap menjadi sorotan utama berbagai kalangan, mulai dari investor institusional hingga pelaku pasar crypto. Baru-baru ini, mantan Presiden Amerika Serikat, Donald J. Trump, kembali mengangkat isu ini ke permukaan dengan nada desakan keras kepada The Fed untuk segera memangkas suku bunga secara signifikan.
Melalui platform media sosial miliknya, Truth Social, pada Jumat (6/6), Trump menyampaikan kekhawatirannya atas kebijakan moneter saat ini yang dinilainya terlalu konservatif dan tidak progresif. Ia menegaskan bahwa tingginya suku bunga justru menimbulkan beban yang sangat besar terhadap keuangan negara akibat meningkatnya biaya utang nasional. Menurutnya, langkah Eropa yang telah memangkas suku bunga hingga 10 kali seharusnya menjadi acuan bagi The Fed untuk tidak tertinggal dalam merespons dinamika ekonomi global.
“Jika The Fed terus bersikap lambat, ini bisa menjadi bencana ekonomi. Kita belum memangkas suku bunga sekali pun, sementara Eropa sudah bergerak cepat. Padahal, ekonomi kita masih dalam posisi yang cukup kuat,” ujar Trump dalam unggahannya.
Lebih lanjut, Trump menyarankan agar The Fed segera memangkas suku bunga sebesar 1 poin penuh. Ia menyatakan bahwa jika inflasi kembali menguat, kebijakan suku bunga dapat dinaikkan kembali sebagai penyeimbang. Namun untuk saat ini, menurutnya, fokus utama adalah menciptakan biaya pinjaman yang lebih murah agar perekonomian dapat kembali melesat.
Dari sudut pandang pasar crypto, wacana pemangkasan suku bunga ini dipandang sebagai angin segar yang bisa menjadi katalis positif bagi kenaikan harga aset digital, khususnya Bitcoin. Sejarah mencatat bahwa setiap kali The Fed memangkas suku bunga secara agresif, Bitcoin cenderung mengalami reli signifikan.
Baca Juga: Oblong Investasi Besar di Token Bittensor: Aksi Korporasi Strategis Dongkrak Saham Hingga 30 Persen
Contohnya pada Maret 2020, di tengah gejolak pandemi COVID-19, The Fed memangkas suku bunga hingga mendekati nol. Hasilnya, Bitcoin melesat dari kisaran US$ 4.000 ke lebih dari US$ 67.000 hanya dalam waktu sekitar satu setengah tahun. Hal serupa juga terjadi pada pertengahan 2019, ketika antisipasi pasar terhadap pemangkasan suku bunga mendorong harga Bitcoin dari US$ 4.000 ke US$ 13.000, meski sempat terkoreksi sebelum kembali naik.
Fenomena ini tidak lepas dari hubungan erat antara suku bunga rendah dan peningkatan likuiditas di pasar keuangan. Ketika biaya pinjaman rendah, investor cenderung mencari aset dengan imbal hasil tinggi—dan Bitcoin serta aset crypto lainnya kerap menjadi pilihan utama. Di sisi lain, kekhawatiran akan inflasi pasca-pemangkasan juga mendorong investor mengalihkan dana ke aset lindung nilai seperti emas dan kini, Bitcoin.
Analis pasar memperkirakan bahwa jika desakan Trump benar-benar membuahkan kebijakan nyata, yakni pemangkasan suku bunga oleh The Fed dalam waktu dekat, maka potensi reli harga Bitcoin menuju rekor tertinggi baru (all-time high/ATH) sangat terbuka lebar. Beberapa proyeksi bahkan menyebut angka psikologis US$100.000 sebagai target realistis jika stimulus moneter kembali digelontorkan.
Namun demikian, risiko tetap ada. Jika pemangkasan dilakukan terlalu agresif tanpa pengendalian inflasi yang ketat, maka gejolak ekonomi lain bisa muncul. Oleh karena itu, langkah kebijakan ini tetap harus dilakukan dengan penuh pertimbangan, tidak hanya dari sisi politik, tetapi juga fundamental ekonomi jangka panjang.
Saat ini, komunitas crypto tengah mengamati dengan cermat setiap sinyal dari The Fed, sekaligus menimbang dampaknya terhadap strategi investasi mereka. Satu hal yang pasti: suara Trump kembali menjadi gema kuat dalam diskusi kebijakan moneter Amerika, dan dampaknya bisa jauh melampaui sekadar ranah politik.

