Harga Bitcoin kembali mencatat reli yang cukup tajam, menyentuh level US$109.125 pada Kamis, 3 Juli 2025, setelah mencatat kenaikan sebesar 3,29% dalam 24 jam terakhir. Momentum ini sekaligus mengukuhkan kembalinya minat pasar terhadap aset digital terbesar di dunia, yang sempat mengalami fase konsolidasi di kisaran US$105.000 hingga US$107.000.
Namun bukan hanya aspek teknikal saja yang menjadi pendorong lonjakan harga kali ini. Di balik pergerakan bullish tersebut, terdapat dinamika politik dan ekonomi yang tengah menjadi perhatian utama di Amerika Serikat: lolosnya Rancangan Undang-Undang (RUU) pajak dan belanja senilai US$3,3 triliun yang diajukan oleh mantan Presiden Donald Trump di Senat.
Baca Juga: Connecticut Larang Cadangan Bitcoin: Arah Berlawanan di Tengah Gelombang Adopsi Aset Digital AS
RUU yang dikenal dengan nama “One Big Beautiful Bill” ini mencakup rencana pemotongan pajak senilai US$4,5 triliun serta pengurangan belanja pemerintah hingga US$1,2 triliun. Jika benar-benar diberlakukan, langkah ini akan menjadi salah satu perombakan fiskal terbesar dalam sejarah AS. Pelaku pasar menilai, stimulus fiskal yang masif ini berpotensi memicu tekanan inflasi yang berkelanjutan, serta meningkatkan permintaan terhadap aset lindung nilai seperti Bitcoin.
Di saat yang sama, volume perdagangan kripto global melonjak sampai dengan US$128 miliar—naik sebesar 32,23% dibanding hari sebelumnya. Angka ini menunjukkan gairah baru dari investor institusi maupun ritel dalam merespons dinamika makroekonomi dan sinyal positif dari peraturan fiskal AS.
Analis pasar memperkirakan bahwa jika Bitcoin mampu menembus level resistance berikutnya dengan volume yang kuat, reli dapat berlanjut menuju area psikologis di atas US$110.000. Sentimen pasar juga mendapat dorongan dari ekspektasi bahwa lingkungan ekonomi yang lebih longgar, serta potensi devaluasi dolar akibat defisit anggaran, bisa memperkuat daya tarik kripto sebagai aset alternatif.
Komunitas kripto global pun menyambut kabar baik ini dengan antusias. Banyak investor institusi maupun retail melihat langkah Trump sebagai kebijakan yang secara tidak langsung mendukung narasi terhadap Bitcoin: keterbatasan suplai, perlindungan terhadap inflasi, dan desentralisasi dari kebijakan fiskal yang boros.

