Pada perdagangan Jumat pagi (25/07), pasar kripto kembali terguncang setelah harga Bitcoin anjlok nyaris 3% dalam 24 jam terakhir, turun dari level US$119 ribu ke posisi US$115 ribu. Koreksi ini memicu kekhawatiran baru di kalangan investor, terutama setelah terkonfirmasinya sinyal teknikal bearish divergence pada indikator MACD, yang menandakan potensi tren penurunan lebih lanjut.
Penurunan harga ini disinyalir dipicu oleh aksi jual dari kalangan investor besar atau whales, serta penurunan minat di pasar derivatif. Salah satu peristiwa yang menyita perhatian adalah pergerakan dari dompet Bitcoin yang telah “tertidur” selama lebih dari 14 tahun. Dompet ini, yang sebelumnya tidak menunjukkan aktivitas apa pun, secara tiba-tiba melepas 3.962 BTC—senilai sekitar US$468 juta atau setara Rp7,6 triliun.
Baca Juga: Bitcoin Ungguli Visa: Transaksi Tembus US$20 Triliun, Era Baru Finansial Dimulai
Aksi ini menjadi sorotan tajam di tengah meningkatnya volatilitas pasar, mengingat BTC yang dijual berasal dari era awal pertambangan Bitcoin, yang kemungkinan dimiliki oleh penambang awal atau kolektor veteran. Transaksi besar ini diduga turut menjadi katalis tekanan jual di pasar spot maupun derivatif.
Data dari Coinglass menunjukkan bahwa total likuidasi di pasar kripto dalam 24 jam terakhir mencapai sekitar US$674 juta. Bitcoin sendiri menempati posisi kedua dalam likuidasi terbesar dengan nilai mencapai US$124 juta, menandakan banyaknya posisi long yang terpaksa ditutup akibat penurunan tajam harga.
Melemahnya minat di pasar derivatif pun turut menambah beban pada struktur pasar. Volume open interest mengalami penyusutan, dan sentimen risiko jangka pendek memburuk. Para analis memperkirakan bahwa tekanan jual bisa berlanjut apabila Bitcoin gagal mempertahankan support kritis di level US$114 ribu.
Meski demikian, sebagian pelaku pasar melihat ini sebagai peluang untuk akumulasi jangka panjang, mengingat fundamental Bitcoin sebagai aset lindung nilai tetap kuat dalam jangka menengah hingga panjang.

