Ethereum dan Solana Melonjak karena Clarity Act, Namun Dinilai Tak Mampu Geser Dominasi Bitcoin

Ethereum dan Solana Melonjak karena Clarity Act, Namun Dinilai Tak Mampu Geser Dominasi Bitcoin

Jakarta, 30 Juli 2025 – Lonjakan performa Ethereum dan Solana dalam beberapa pekan terakhir memicu gelombang antusiasme di kalangan investor aset digital. Namun, sejumlah ahli termasuk tokoh filantropi dan investor legendaris Bill Miller menilai bahwa euforia ini sebaiknya tidak disalahartikan sebagai indikasi kekuatan fundamental dari kedua jaringan blockchain tersebut.

Menurut Miller, kenaikan tajam nilai Ethereum dan Solana sebagian besar disebabkan oleh disahkannya Clarity Act, sebuah rancangan undang-undang penting dari pemerintah Amerika Serikat yang mengatur klasifikasi dan kerangka hukum untuk aset digital. UU ini secara implisit memberi keuntungan kepada platform blockchain yang sudah lebih dahulu dikenal dan dianggap “terdesentralisasi”, seperti Ethereum dan Solana.

Namun, Miller memberikan peringatan tegas: “Jika Ethereum dan Solana diluncurkan pada hari ini, dengan aturan regulasi yang jauh lebih ketat, keduanya mungkin tidak akan langsung memperoleh status legal yang sama.” Ia menambahkan bahwa keunggulan keduanya lebih merupakan hasil dari timing advantage dan celah hukum ketimbang superioritas teknologi.

Kritik terhadap Mekanisme Proof-of-Stake (PoS)

Salah satu isu yang diangkat Miller adalah penggunaan mekanisme konsensus Proof-of-Stake (PoS) oleh Ethereum dan Solana. Dalam sistem PoS, pihak yang memiliki lebih banyak token memiliki pengaruh lebih besar dalam pengambilan keputusan jaringan. Miller menganggap ini sebagai bentuk “oligarki digital” yang sejatinya tak jauh berbeda dengan sistem kekuasaan tradisional, di mana kekayaan berbanding lurus dengan kendali.

“Proof-of-Stake itu efisien, tapi bukan revolusioner. Kita hanya memindahkan struktur kekuasaan dari lembaga ke dompet digital yang besar. Apakah itu benar-benar kemajuan?” ujar Miller.

Mengapa Bitcoin Tetap Lebih Inovatif

Berbeda dengan dua blockchain tersebut, Bitcoin menggunakan sistem Proof-of-Work (PoW), yang menekankan pada kekuatan komputasi sebagai dasar validasi transaksi. Meskipun dikritik karena konsumsi energi yang tinggi, Miller justru melihat aspek ini sebagai bukti dari ketahanan dan keamanan Bitcoin.

Baca Juga: Kala Keraguan Muncul, Satoshi Nakamoto Menjawab: “Saya Tak Punya Waktu untuk Meyakinkannya”

“Bitcoin tidak bisa dimanipulasi oleh siapa pun, bahkan oleh mereka yang memiliki ratusan ribu unit. Itulah esensi desentralisasi yang sebenarnya,” tegasnya.

Menurut Miller, PoW memberikan proteksi terhadap sentralisasi kekuasaan karena tidak ada satu entitas pun yang bisa membeli kekuasaan hanya dengan mengakumulasi token. Kombinasi antara tata kelola terbuka, keamanan yang telah teruji waktu, dan komunitas yang solid membuat Bitcoin tetap menjadi standar emas di dunia aset kripto.

Teknologi yang Bertahan Adalah yang Paling Tangguh, Bukan yang Populer

Dalam jangka panjang, Miller percaya bahwa hanya teknologi dengan pondasi tata kelola yang kuat dan terbukti akan tetap bertahan. Ia menilai, Ethereum dan Solana masih memiliki tantangan mendasar dalam hal keberlanjutan dan distribusi kekuasaan yang adil.

“Regulasi bisa memberikan keuntungan sesaat, namun pasar pada akhirnya akan menilai berdasarkan fondasi. Dan dalam hal ini, Bitcoin masih tak tertandingi,” pungkas Miller.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *