Pasar aset digital kembali bergejolak. Dalam kurun waktu 24 jam terakhir, lebih dari US$817 juta atau sekitar Rp13,3 triliun aset kripto milik trader global terpaksa dilikuidasi, menurut data dari platform analitik Coinglass. Fenomena ini menandai salah satu gelombang likuidasi harian terbesar dalam beberapa hari terakhir, yang mengguncang kepercayaan para investor ritel maupun institusional.
Sebanyak 169.486 posisi trading tersapu habis oleh pergerakan pasar yang volatil. Dari total tersebut, US$511 juta berasal dari posisi long, sementara US$302 juta berasal dari posisi short. Hal ini menunjukkan bahwa para trader tidak hanya terpukul karena harga jatuh, tapi juga karena adanya lonjakan harga tak terduga yang memicu stop-loss secara masif.
Binance menjadi bursa kripto dengan jumlah likuidasi tertinggi, mencatat kerugian senilai US$369 juta, diikuti oleh Bybit dengan total likuidasi mencapai US$190 juta.
Baca Juga: Trump Lewat WLFI Tambah Ethereum, Portofolio Kini Bernilai Rp4 Triliun
Menariknya, Ethereum (ETH) muncul sebagai aset yang mengalami tekanan terbesar, dengan nilai likuidasi mencapai US$261 juta, mengungguli Bitcoin (BTC) sebesar US$140 juta dan XRP yang turut mencatat likuidasi senilai US$96 juta.
Fenomena ini terjadi di tengah dinamika pasar yang sedang bullish dalam beberapa pekan terakhir, dipicu oleh aksi sejumlah institusi besar yang memperkuat cadangan kripto mereka. Pembentukan portofolio strategis oleh entitas besar mendorong reli harga sejumlah aset utama. Namun, volatilitas yang tinggi tetap menjadi faktor risiko utama, menciptakan jebakan bagi trader dengan posisi agresif.
Para analis memperingatkan bahwa likuidasi masif semacam ini bisa menjadi sinyal bahwa pasar masih berada dalam fase transisi yang sensitif, di mana sentimen positif belum sepenuhnya menghapus potensi koreksi tajam dalam waktu singkat.

