Jakarta, 17 Juni 2025 – Di tengah ketegangan geopolitik yang meningkat di kawasan Timur Tengah, khususnya antara Israel dan Iran, perusahaan investasi teknologi Strategy (MSTR) kembali membuat gebrakan besar. Tak tanggung-tanggung, Strategy memborong sebanyak 10.100 unit Bitcoin (BTC) dengan total nilai fantastis mencapai US$1 miliar, atau setara dengan lebih dari Rp16 triliun. Aksi ini dilakukan pada Senin (16/06), ketika harga BTC sempat terkoreksi tajam ke level US$104.080 per koin.
Langkah agresif ini diambil hanya beberapa hari setelah peluncuran produk strategis terbaru mereka, yaitu STRD, saham preferen berbasis Bitcoin yang kini resmi tercatat di bursa Nasdaq. Melalui penerbitan STRD, Strategy menargetkan penggalangan dana sebesar US$250 juta dengan menjual 2,5 juta saham pada harga penawaran awal sebesar US$100 per lembar.
Pembelian ini semakin memperkokoh posisi Strategy sebagai entitas institusional dengan kepemilikan BTC terbesar di dunia. Hingga saat ini, perusahaan yang dipimpin oleh Michael Saylor tersebut telah mengakumulasi total 592.100 BTC, dengan nilai investasi kumulatif mencapai sekitar US$41,8 miliar. Menariknya, rata-rata harga pembelian Strategy berada di kisaran US$70.666 per koin—jauh di bawah harga pasar saat ini—menunjukkan presisi strategi akumulasi jangka panjang mereka.
Respons Terhadap Gejolak Global
Keputusan membeli BTC dalam jumlah besar saat konflik Israel-Iran kembali memanas mencerminkan keyakinan Strategy bahwa Bitcoin adalah aset lindung nilai global terhadap ketidakpastian geopolitik. Sementara banyak investor cenderung menghindari risiko dan keluar dari pasar aset kripto saat kondisi global tidak menentu, Strategy justru memanfaatkan momentum koreksi untuk memperbesar posisi mereka secara signifikan.
Baca Juga: Bitcoin dan XRP Diprediksi Gantikan Dolar AS Sebagai Mata Uang Cadangan Global pada 2050
Analis menilai bahwa langkah ini bukan hanya spekulatif, melainkan bagian dari strategi jangka panjang perusahaan untuk menjadikan Bitcoin sebagai landasan utama struktur modal dan neraca keuangan mereka. Ketersediaan saham preferen STRD menjadi instrumen yang memperkuat likuiditas Strategy untuk terus mengakumulasi BTC tanpa perlu menjual aset utama mereka.
Kinerja dan Optimisme Terus Meningkat
Seiring dengan penambahan aset tersebut, imbal hasil (return) portofolio Bitcoin Strategy sejak awal tahun mengalami peningkatan signifikan, kini mencapai 19,1%, naik dari 17% pada pekan sebelumnya. Merespons performa positif tersebut, perusahaan pun merevisi proyeksi target imbal hasil tahunan mereka dari 15% menjadi 25%, menunjukkan optimisme yang semakin tinggi terhadap pergerakan harga BTC dalam jangka panjang.
Selain itu, pasar merespons langkah Strategy dengan cukup positif. Saham MSTR dan STRD menunjukkan tren menguat di tengah volatilitas pasar kripto, menandakan kepercayaan investor terhadap pendekatan perusahaan yang terukur namun agresif.
Masa Depan Bitcoin dan Peran Institusi
Aksi akumulasi ini menjadi bukti lanjutan bahwa institusi keuangan global semakin menganggap serius peran Bitcoin dalam lanskap keuangan modern. Jika sebelumnya BTC hanya dilirik sebagai instrumen spekulatif, kini ia mulai diperlakukan sebagai aset strategis yang mampu bertahan di tengah inflasi, konflik global, hingga guncangan sistem moneter tradisional.
Dengan total kepemilikan lebih dari setengah juta BTC, Strategy secara efektif menjadi ‘bank sentral’ Bitcoin institusional. Bila tren ini berlanjut, bukan tidak mungkin perusahaan-perusahaan besar lainnya akan mengikuti jejak yang sama, mengubah struktur kepemilikan BTC secara global dari ritel ke institusi.

