Setelah mengurangi keterlibatannya dalam urusan politik AS, Elon Musk kini kembali memusatkan perhatian pada perusahaannya, SpaceX. Ia dijadwalkan menggelar siaran langsung bergaya “all-hands” melalui platform X pada hari Selasa pukul 12 siang waktu setempat dari Starbase, kota baru SpaceX di Texas Selatan. Tak lama setelah itu, SpaceX akan meluncurkan uji terbang kesembilan roket Starship dari lokasi peluncuran terdekat, dalam jendela peluncuran yang dibuka pukul 18:30 waktu setempat.
Peluncuran kali ini sangat krusial, mengingat dua uji coba sebelumnya pada Januari dan Maret berakhir dengan kegagalan, ketika Starship meledak di atas Teluk Meksiko hanya beberapa menit setelah lepas landas. Roket ini menjadi inti dari visi Musk dan SpaceX untuk mengirim manusia ke Mars dan kembali ke Bumi. Musk bahkan menyatakan bahwa Starship akan dikirim ke Mars pada 2026 dengan membawa robot, sebuah target yang sangat ambisius.
Starship juga memiliki peran penting dalam kontrak senilai sekitar US$4 miliar dengan NASA untuk mendaratkan astronaut di Bulan. Kegagalan ketiga akan memicu pertanyaan serius terhadap kemajuan SpaceX dalam proyek ini, sekaligus memperkuat keraguan atas klaim Musk bahwa Starship siap mengirim kargo ke Mars tahun depan.

Ini akan menjadi pidato publik pertama Musk dalam sekitar satu tahun terkait Starship dan visinya tentang kolonisasi Mars. Ia biasanya memanfaatkan momen seperti ini untuk memberikan pembaruan tentang desain dan pengembangan roket.
Kegagalan peluncuran Januari disebabkan oleh getaran ekstrem yang memicu kebocoran propelan dan kebakaran, sementara insiden Maret disebabkan oleh masalah perangkat keras pada mesin Raptor, yang menyebabkan campuran propelan terjadi pada waktu yang salah dan berujung ledakan. SpaceX menyebut kedua kegagalan itu sebagai insiden yang “sangat berbeda,” dan mengatakan telah menerapkan perbaikan teknis. Generasi mesin baru, “Raptor 3,” juga akan digunakan untuk meningkatkan keandalan.
Untuk peluncuran kali ini, FAA memperluas zona bahaya bagi pilot dan pelaut, mengingat insiden sebelumnya yang membuat beberapa pesawat komersial harus mengalihkan rute demi menghindari puing-puing.
Meski dua uji coba terakhir berakhir dengan kegagalan, SpaceX berhasil menangkap kembali booster Super Heavy — bagian bawah dari sistem peluncuran Starship — di menara peluncuran, sebuah pencapaian teknis yang pertama kali dicapai tahun lalu. Kali ini, SpaceX akan menggunakan kembali booster yang sebelumnya berhasil ditangkap — untuk pertama kalinya dalam sejarah perusahaan.
Saat Starship mencapai luar angkasa, SpaceX juga akan mencoba kembali untuk melepaskan delapan satelit tiruan, yang dirancang menyerupai ukuran dan berat satelit Starlink sebenarnya. Misi ini gagal dilakukan dalam dua peluncuran sebelumnya karena roket meledak sebelum waktunya.

SpaceX juga akan menguji berbagai peningkatan teknologi yang bertujuan meningkatkan kemampuan penggunaan ulang Starship. Dalam jangka panjang, perusahaan ini berencana untuk dapat memulihkan kembali baik Starship maupun booster Super Heavy setelah setiap peluncuran. Musk menyatakan bahwa pencapaian ini kemungkinan akan terwujud tahun ini.
Namun, walau uji terbang ini sukses, Starship masih perlu melalui banyak pengujian lanjutan sebelum benar-benar siap digunakan secara operasional, termasuk demonstrasi pengisian bahan bakar di orbit — salah satu kemampuan penting untuk penerbangan antariksa jarak jauh.
Sebagai catatan positif, FAA telah menyetujui peningkatan jumlah peluncuran Starship dari Starbase, dari lima menjadi 25 kali per tahun, memberi SpaceX ruang lebih besar untuk pengembangan ke depan.
Artikel diterbitkan oleh tim Cuanity berdasarkan sumber terpercaya, Bloomberg.com.

