Indonesia mencatat surplus perdagangan terkecil dalam lebih dari lima tahun terakhir, seiring tanda-tanda bahwa para importir mulai menimbun barang dari China dan mitra dagang utama lainnya untuk mengantisipasi risiko meningkatnya tarif global.
Surplus menyusut menjadi hanya US$159 juta pada April, menjadi yang terkecil sejak Oktober 2019 dan jauh di bawah proyeksi median sebesar US$2,8 miliar dalam survei analis Bloomberg.
Impor ke negara dengan ekonomi terbesar di Asia Tenggara ini melonjak 22% secara tahunan (year-on-year) menjadi US$20,59 miliar pada bulan tersebut, didorong oleh peningkatan impor barang modal, bahan baku, dan barang konsumsi, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis pada Senin. Sementara itu, ekspor hanya tumbuh 5,8% menjadi US$20,76 miliar, di mana peningkatan pengiriman kopi dan logam dasar mampu mengimbangi penurunan 21% pada ekspor tambang yang sebagian disebabkan oleh melemahnya pengiriman batu bara.
Lonjakan tajam impor ini menunjukkan adanya restocking secara pre-emptive di tengah meningkatnya risiko perdagangan global akibat kenaikan tarif AS, menurut Hosianna Evalita Situmorang, ekonom dari PT Bank Danamon Indonesia.
Impor dari China — mitra dagang terbesar Indonesia — tercatat naik 54% secara tahunan. Barang dari Jepang dan Singapura juga mengalami peningkatan signifikan.
Dalam paparan resminya, BPS tidak merinci kategori impor bulanan berdasarkan negara. Namun, impor Indonesia dari China sepanjang Januari–April tahun ini didominasi oleh mesin dan peralatan mekanik serta listrik, disusul kendaraan dan suku cadangnya.
Baca Juga: Saham Eropa Menguat Tajam, Kalahkan Dunia saat Perang Dagang Guncang AS
Polanya, menurut Situmorang, peningkatan impor karena restocking diperkirakan akan berlanjut dalam beberapa bulan mendatang, mengingat tekanan perdagangan global masih tinggi, termasuk kebijakan tarif impor baja yang lebih tinggi oleh Presiden AS Donald Trump yang akan berlaku pada Juni, serta berakhirnya masa pembebasan tarif pada Juli. Ekspor tambang juga diprediksi akan terus tertekan akibat risiko tarif dan melemahnya permintaan dari China.
Surplus yang lebih kecil ini juga dapat memberikan tekanan terhadap neraca transaksi berjalan Indonesia, meskipun tekanan tersebut dinilai “masih dapat dikelola karena harga minyak yang rendah dan jasa yang stabil,” tambah Situmorang.
Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia secara konsisten mencatat surplus perdagangan bulanan di atas US$1 miliar. Negara ini terakhir kali mencatat defisit perdagangan pada April 2020.
Sumber: Bloomberg.com

